Working Vista Pointer

Top 10 Rendemen PG Se-Indonesia 31 Juli 2014

 ==  Top 10 Besar Rendemen ==

Pabrik Gula Se-Indonesia


»»  Baca Selengkapnya (Readmore)..
Category: , 0 komentar
Reaksi: 

Tebang "MBS" PG Pradjekan 2014

TEBANG MBS PG PRADJEKAN 2014

Istilah MBS (Manis, Bersih dan Segar) seperti momok dalam musim giling tebu, berikutnya  memunculkan istilah ditolak, dibersihkan, diperingatkan, dipinalti dan yang terbaru di Rafaksi Bobot!.

Pengertian MBS dalam implementasinya  sulit untuk dievaluasi karena datanya sering tidak dicatat secara akurat, sehingga memunculkan seolah-olah sekedar “jargon”,  retorika semata bahkan ekstrimnya “jarkoni – iso ujar ra iso nglakoni” !

VIDEO Tebang MBS PG Pradjekan Musim Giling 2014


Sumber : Dokumentasi Tanaman-Litbang PG Pradjekan, sugar.lpp.ac.id

»»  Baca Selengkapnya (Readmore)..
Category: , 1 komentar
Reaksi: 

Top 10 Rendemen PG Se-Indonesia 15 Juli 2014

 ==  Top 10 Besar Rendemen ==

Pabrik Gula Se-Indonesia

»»  Baca Selengkapnya (Readmore)..
Category: , 0 komentar
Reaksi: 

Top 10 Rendemen PG Se-Indonesia Th 2014

 ==  Top 10 Besar Rendemen ==

Pabrik Gula Se-Indonesia




 Sumber : sugar.lpp.ac.id
»»  Baca Selengkapnya (Readmore)..
Category: , 0 komentar
Reaksi: 

Top 15 Rendemen PG Se-Indonesia Th 2014

 ==  Top 15 Besar Rendemen ==
Pabrik Gula Se-Indonesia



Sumber : sugar.lpp.ac.id
»»  Baca Selengkapnya (Readmore)..
Category: , 1 komentar
Reaksi: 

Varietas Tebu PRG NXI-4T Toleran Kekeringan

Mengenal Varietas Tebu NXI-4T
Sebagai Produk Rekayasa Genetika Di PTPN XI



PRG NXI-4T : Merupakan varietas tebu baru dengan mempunyai sifat toleran terhadap kekurangan air

Oleh : Agung Mahardhika, SP ( PBT Ahli Pertama )
Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan Surabaya


I.  LATAR BELAKANG

Kebijakan  Kementerian  Pertanian  dicerminkan pada visinya  untuk mewujudkan  pertanian industrial  unggul  berkelanjutan  yang  berbasis  sumberdaya  lokal  untuk  meningkatkan  kemandirian  pangan,  nilai  tambah,  daya  saing,  ekspor  dan  kesejahteraan  petani. Untuk  mencapai  visi  tersebut dibutuhkan  seperangkat  teknologi  yang  tepat  untuk  mengangkat  posisi  sumber  daya  genetik  lokal, terutama  yang  mendorong  kemandirian  nasional  dan  kesejahteraan  petani.  Oleh  karenanya,  Produk Rekaya  Genetika  (PRG)  diposisikan sebagai  salah  satu  alternatif  yang  dapat  dimanfaatkan  secara  hati-hati. Kehati-hatian  ini  tercermin  dari  persyaratan  pemanfaatan  produk  tersebut  harus  melalui  satu perangkat pengkajian keamanan.

Tebu Produk Rekayasa Genetika ( PRG ) toleran kekeringan klon NXI-4T merupakan varietas tebu baru  hasil  perakitan  melalui  proses  transformasi  genetika  menggunakan  bakteri Agrobacterium temefaciens yang  di  lakukan  oleh  PTPN  XI  (  Persero  ).  Proses  perakitan  tebu  PRG  ini  dilaksanakan  di Laboratorium  Bioteknologi  PTPN  XI  sejak  tahun  1999  dan  merupakan  kerjasama  dengan Ajinomoto company International. Pekerjaan kontruksi gen dilakukan oleh Ajinomoto transformasi genetika sampai dengan pengkajian keamanan lingkungan dan pangan dilakukan oleh PTPN XI.

Pencarian varietas tebu dengan sifat genetik tahan kering merupakan salah satu jawaban untuk mengatasi  permasalahan  rendahnya  produktivitas  tebu  di  lahan  kering.  Adanya  interaksi  yang  nyata antara lingkungan tumbuh yang kurang memadai dengan unsur genetik, harus dipertimbangkan dalam program pemuliaan dan seleksi. Gen yang mampu mengatasi kendala tumbuh digabungkan dengan gen mutu dan produksi untuk mengantisipasi adanya pergeseran pertanaman tebu ke lahan kering, dimana terjadi  keterbatasan  ketersediaan  air  dan  iklim  yang  beragam.  Upaya  perbaikan  genetik  tanaman  di Indonesia masih terbatas melalui metode pemuliaan tanaman konvensional, seperti persilangan, seleksi dan mutasi, dan masih belum secara optimal memanfaatkan aneka teknologi pemuliaan modern yang saat ini  sangat  pesat perkembangannya  di  negara-negara  maju.  Tidak  terkecuali  pada  tanaman  tebu, seluruh varietas tebu yang dihasilkan di Indonesia berasal dari pemuliaan konvensional.

Tujuan dari pengembangan tebu PRG toleran kekeringan adalah untuk meningkatkan produksi gula tebu utamanya yang terletak pada lahan marginal cekaman kekeringan. PT Perkebunan Nusantara XI  mempunyai  areal  budidaya  tebu  di  daerah  Pantura  (pantai  utara  Jawa)  dan  daerah  lain  yang berpotensi  mengalami  cekaman  kekeringan.  Tebu  PRG  toleran  kekeringan  sangat  berpotensi dibudidayakan  pada  lahan  marginal  tersebut.  Selain  itu,  tebu  PRG  ini  juga  diarahkan  untuk  tujuan meningkatkan nilai tambah dari by product tetes (molasses), karena dengan transformasi gen betA tebu akan menghasilkan senyawa betain.

Undang-undang  12  Tahun  1992,  PP  44  Tahun  1995  dan  Permentan  61  Tahun  2011 mengamanatkan bahwa benih yang beredar di masyarakat harus bersertifikat dan berlabel. Sedangkan benih yang dapat disertifikasi hanya benih Bina, yaitu benih yang sudah dilepas oleh Menteri Pertanian.

Dalam kaitan ini varietas tebu NXI-4T termasuk benih yang belum dapat diedarkan kepada masyarakat petani  tebu  rakyat. Atas  dasar  hasil  pengujian  keamanan  lingkungan  dan  keamanan  pangan  serta pengajuan  dokumen  yang  dilakukan,  saat ini  tebu  Produk  Rekayasa  Genetik  (PRG)  toleran  kekeringan milik PTPN XI telah mendapatkan Sertifikasi Keamanan Lingkungan dari Kementeian Lingkungan Hidup dan Sertifikasi Keamanan Pangan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), dan saat ini telah mendapatkan  Surat  Keputusan  (SK)  Menteri  Pertanian  RI  No  4571/Kpts/SR.120/8/2013  tentang pelepasan  Tebu  Produk  Rekayasa  Genetika  Varietas  Unggul  Dengan  NXI-4T.  Dalam  tulisan  dan pembahasan ini dimaksudkan untuk memberikan informasi tentang spesifikasi keunggulan varietas klon baru tebu NXI-4T yang telah diizinkan untuk dilepas dan ditanam secara komersial.


II.  INFORMASI GENETIKA

Tebu  PRG  toleran  kekeringan  NXI-4T  dirakit  dengan  metode  transformasi  genetik  di Laboratorium  Bioteknologi  PTPN  XI  (Persero)  sejak  tahun  1999  bekerja  sama  dengan  PT. Ajinomoto Company International. Materi genetik yang digunakan untuk merakit tebu PRG toleran kekeringan NXI-4T  adalah  gen betA yang  menyandi  untuk  enzim  choline  dehydrogenase  (CDH)  dan  dikonstruk  dalam plamsid pMLH 2113. Dalam konstruk tersebut terlihat bahwa gen betA dikendalikan oleh promoter DNA 35S-CaMV  dan  gen  penanda  ketahanan  terhadap  antibiotik  hygromicine  (hptII).  Konstruk  pMLH  2113 yang  mengadung  gen betA  kemudian  ditransformasikan  ke  sel Agrobacterium  tumefacient  strain LBA4404 dan digunakan untuk transformasi genetik tanaman tebu.



III.  PENGUJIAN KARAKTER TOLERAN KEKERINGAN

Pengujian  karakter  toleran  kekeringan  pada  varietas  tebu  N  XI-4T  dilakukan  dengan  analisis molekuler,  fisiologi,  secara  kultur  jaringan  dan  pengamatan  morfologi.  Uji  molekuler  dilakukan  untuk mengetahui  keberadaan  dan  kestabilan  sisipan gen betA melalui  metode  PCR  dan Southern  blot.  Uji fisiologi  dilakukan  untuk  mengetahui  dan  mengukur  aktifitas  enzim  CDH  dan  kadar  senyawa betaine menggunakan  metode  HPLC  (High  Performance  Liquid  Chromatography).  Uji  secara  kultur  jaringan dilakukan dengan memberikan cekaman osmotik garam NaCl pada media pertumbuhan. Uji morfologi dilakukan  dengan  memberikan  stres/cekaman  kekeringan  dengan  penghentian  pemberian  air  pada percobaan skala pot dalam rumah kaca.

Melalui  analisis  PCR  diketahui  bahwa  keberadaan  sisipan  gen betA stabil  diketemukan  sampai dengan pengamatan pada generasi ketiga vegetatif dan dengan analisis Souther Blot dengan sangat jelas diyakinkan  terdapat  1  copy  sisipan  gen betA pada  tebu  PRG  toleran kekeringan  N  XI-4T.  Uji  fisiologi menunjukkan bahwa pada sampel daun dan nira tebu N XI-4T diketemukan adanya aktifitas enzim CDH dan kandungan senyawa betaine, tetapi tidak diketemukan pada tanaman tebu non-PRG BL (kontrol).

Hasil uji kultur jaringan melalui penambahan garam NaCl pada media tumbuh menunjukan bahwa tebu N XI-4T mampu bertahan terhadap cekaman osmotik sampai dengan konsentrasi NaCl 0,3 Molar. Akan tetapi. varietas BL (kontrol) telah mengalami hambatan pertumbuhan pada konsentrasi NaCl 0,15 Molar.

Pengujian ketahanan kekeringan pada percobaan skala rumah kaca memperlihatkan ketahanan kering yang lebih lama yaitu diatas 36 hari dibandingkan hari ke-19 pada varietas BL (kontrol). Apabila diamati morfologi  perakaran  antara  tebu  PRG  toleran  kekeringan  N  XI-4T,  varietas  BL  dan  varietas  PSJT  941 (sebagai kontrol  tahan  kering)  terdapat  perbedaan  nyata pada  perakaran  tipe rope system yang  lebih banyak  dan  lebih  panjang  pada  varietas N  XI-4T.  Perakaran  tipe rope  system berfungsi  untuk  mencari dan menyerap air pada kondisi sangat kering.



IV.  KERAGAAN PRODUKSI TEBU PRG NXI-4T

Untuk  mengetahui  stabilitas  pertumbuhan  dan  produktivitas  varietas  tebu  PRG  N  XI-4T dilakukan uji adaptasi pada 3 lokasi yang mewakili 3 tipologi iklim yang berbeda selama 3 musim tanam. Ketiga  lokasi  tersebut  berada  di  lahan  Pabrik  Gula  (PG)  Poerwodadie  mewakili  tipologi  C2,  PG Assembagoes  mewakili  tipologi  E4  dan  PG  Pradjekan  mewakili  tipologi  D3  dengan  kondisi  tegal  tidak berpengairan atau tegal tadah hujan dan masa tanam di awal atau saat musim hujan. Tebu PRG N XI-4T yang  merupakan  tebu  toleran  kekeringan  menunjukkan  potensi  hablur  gula  yang  lebih  tinggi dibandingkan dengan kontrolnya yaitu untuk PC sebesar 2-75%, ratoon I sebesar 14-57%, dan ratoon II sebesar 11-44%. Hasil uji adaptasi menunjukkan kesesuaian pada tipologi iklim yang sangat kering yaitu D3 dan E4.


 Dari data di atas diketahui bahwa pengaruh lokasi terhadap bobot , rendemen dan hablur tidak ada perbedaan signifikan antara varietas NXI-4T dan kontrol, namun demikian dari terdapat presentase peningkatan hablur yang lebih tinggi dari kontrol yaitu untuk PC sebesar 2,75% , ratoon I 14 – 57% dan ratoon II sebesar 11-44%. Dari wilayah lokasi PG Djatiroto dan PG Redjosarie pada tabel di atas terdapat presentase peningkatan hablur yang lebih tinggi dari kontrol sebesar 12% ( PG Djatiroto / Ledok ) , lokasi Djatiroto (sumbersuko) sebesar 2% dan lokasi PG Redjosarie sebesar 5%.


V.  KETAHANAN TERHADAP HAMA DAN PENYAKIT

Varietas  NXI-4T   untuk  ketahanan  terhadap  serangan  hama  penggerek  batang  dan  penggerek pucuk secara alami pada periode uji multilokasi tahun 2006 – 2011 dibandingkan dengan varietas kontrol disajikan pada berikut ;

Dari  hasil  keterangan  di  atas  untuk  hama  dan  penyakit  Varietas  NXI-4T  tergolong  agak  tahan terhadap penyakit mozaik dan karat daun.


VI.  SERTIFIKASI KEAMANAN LINGKUNGAN DAN KEAMANAN PANGAN

Tebu PRG toleran kekeringan NXI-4T telah mendapatkan sertifikasi Keamanan Lingkungan dari Kantor  Menteri  Lingkungan  Hidup  /  Menteri  Pertanian  dengan  nomor  B- 945/MENLH/08/2011  (copy surat di Lampiran 8 dan 9), dan sertifikat Keamanan Pangan dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) nomor HK.04.1.52.10.12.6489 tahun 2012. Kedua sertifikasi tersebut menunjukan bahwa tebu PRG  toleran  kekeringan  NXI-4T  aman  dibudidayakan  tidak  menimbulkan  terjadinya gene  flow  ke organisme non-target atau kemungkinan menjadi tanaman yang invasive (gulma super) dan tebu PRG tersebut  aman  dikonsumsi  tidak  akan  menimbulkan  racun  ataupun  senyawa  alergen.  Dengan  telah didapatkannya  kedua  sertifikasi  tersebut,  maka  tebu  PRG  toleran  kekeringan  NXI-4T  dapat dikomersialkan dan bisa mendapatkan sertifikasi pelepasan varietas.


VII.  DESKRIPSI VARIETAS

Asal  Usul  :  Tebu  PRG  varietas  NXI-4T  merupakan  hasil  transformasi  genetika  menggunakan Agrobacterium  tumefaciens  yang  membawa  konstruk  gen betA.  Gen  betA  diperoleh  dari  bakteri Rhizobium meliloti dan menyandi protein choline dehydrogenase (CDH). Tebu tetua yang dipergunakan untuk perakitan tebu PRG varietas NXI-4T adalah BL.

VARIETAS N XI-4T

Sifat Morfologi
1.        Batang
  • Warna Batang              : ungu
  • Bentuk ruas                  : berbiku, silindris, bulat
  • Susunan ruas                : berbiku
  • Noda gabus                   : jarang, mencapai tengah
  • Retak gabus                  : tidak ada
  • Lapisan lilin                  : tipis sepanjang ruas, tidak memiliki warna
  • Retakan tumbuh           : tidak ada
  • Alur mata                     : 3 mm mencapai tengah, dangkal

2.        Buku Ruas Tebu
  • Cincin tumbuh                   : melingkar datar di atas puncak mata
  • Warna cincin tumbuh       : ungu
  • Mata akar                         : 3, baris paling atas melewati puncak mata

3.        Daun
  • Warna Daun                      : hijau
  • Lebar daun                        : 4-6 cm
  • Lengkung daun                  : melengkung kurang dari ½ helai daun
  • Telinga daun                     : tinggi kurang dari 2 kali lebarnya, tegak
  • Bulu bid.punggung            : tidak ada
  • Sifat lepas pelepah            : sedikit mudah
  • Warna pelepah                 : hijau tua
  • Bidang punggung              : tidak ada rambut tepi

4.        Mata
·         Letak mata tunas              : di atas bungkus pangkal pelepah, tidak melampaui      lingkar tumbuh
  • Bentuk mata                      : bulat
  • Bagian terlebar                 : pada tengah-tengah mata
  • Ukuran sayap mata           : sama lebar
  • Tepi sayap                         : rata
  • Rambut jambul                 : lebih dari 2 mm
  • Pusat tumbuh                    : di puncak mata
  • Rambut tepi basal             : tidak ada
  • Ukuran mata                     : besar

Sifat Agronomis
1.        Pertumbuhan
  • Perkecambahan           : sedang
  • Diameter batang          : sedang
  • Pembungaan                : tidak berbunga
  • Kemasakan                   : masak akhir
  • Kadar sabut                  : 12,9 – 14%
  • Tidak berlubang

2.        Potensi Produksi
a.  PC
·            Bobot                            : 911 ± 355,08
·            Rendemen                    : 8,45 ± 1,44
·            Hablur Gula (ku/ha)      : 77,67 ± 38,13
b.  Ratoon
·            Bobot                            : 756,25 ± 246,15
·            Rendemen                    : 8,08 ± 1,75
·            Hablur Gula (ku/ha)      : 58,74 ± 12,61


Ketahanan Hama dan Penyakit
-   Hama          : agak tahan terhadap penggerek pucuk dan penggerek batang
-   Penyakit      : agak tahan terhadap penyakit mozaik dan penyakit karat daun


Kesesuaian Lokasi
-        Cocok  dikembangkan  pada  tipologi  lahan  tidak  berpengairan  (tegal  tadah  hujan, terutama untuk pola tanam awal musim hujan)
-        Varietas  tebu  PRG  toleran  kekeringan  NXI-4T sangat  sesuai dikembangkan  pada  lahan tegal tadah hujan dengan spesifik lokasi entisol dan inceptisol dengan iklim E4 dan D3, serta agak sesuai di lahan dengan spesifik lokasi grumosol dengan iklim C2.


KESIMPULAN

Tebu  Produk  Rekaya  Genetika  (  PRG  )  toleran  kekeringan  klon  NXI-4T   merupakan varietas  tebu  baru dengan mempunyai sifat toleran terhadap kekurangan air. Potensi Keunggulan Produksi NXI-4T terlihat dengan  hasil  produksi  tebu  dengan  kesesuaian  lahan  kekeringan  dan  terdapatnya  peningkatan  hasil hablur.




DAFTAR REFERENSI

PTPN  XI,  2013  .Usulan  Pelepasan  Tebu  Rekayasa  Genetika  (PRG)  Toleran  Kekeringan  NXI  4-T  sebagai Varietas Unggul.
Pedoman Pengujian, Pelepasan dan Penarikan Varietas Tanaman Perkebunan 2012. Direktorat Tanaman Tahunan. Jakarta
Anonim , 2012 Kebijakan kementrian pertanian terkait Produk Rekayasa Genetika (PRG) http://www.deptan.go.id/detailrespon.php?id=25 di akses 12 Nopember 2012
(sumber: ditjebun)
http://www.ptpn-11.com/mengenal-varietas-tebu-nxi-4t-sebagai-produk-rekayasa-genetika-di-ptpn-xi-persero.html
http://litbanginduk.blogspot.com/2014/03/diskripsi-tebu-varietas-prg-nxi-4t.html
»»  Baca Selengkapnya (Readmore)..
Category: , 0 komentar
Reaksi: